Dosen Fakultas Hukum Raih Gelar Doktor usai Kaji Legal Standing Organisasi Lingkungan Hidup di Indonesia

img_4029

Rabu (21/12), Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) menggelar ujian terbuka untuk kedua kalinya pada hari yang sama. Ujian terbuka kedua ini dilaksanakan di ruang 3.1.1 yang dihadiri oleh Prof. Dr. Sigit Riyanto, S.H., LL.M. selaku ketua, Prof. Dr. Marsudi Triatmodjo, S.H., LL.M. sebagai promotor, Prof. Sudjito, S.H., M. Si. sebagai ko-promotor, dan dihadiri oleh penguji eksternal Dr. I Gusti Ayu Ketut Rachmi H, S.H., MM. dari Universitas Sebelas Maret (UNS), serta Fajar Winarni, S.H., M. Hum. sebagai promovenda.

Dosen Hukum Lingkungan FH UGM ini mengangkat disertasi Kajian Yuridis Legal standing Organisasi Lingkungan Hidup di Indonesia. “Legal standing organisasi lingkungan di Indonesia sebenarnya sudah mendapat pengakuan hukum sejak 1997, tetapi kenyataanya belum banyak organisasi lingkungan yang melaksanakan hak gugatnya. Ternyata dari persyaratan-persyaratan yang ditetapkan oleh Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan ada beberapa syarat yang cukup memberatkan. Misalnya saja mengenai syarat berbadan hukum. Karena dalam kenyataannya banyak organisasi yang tidak berbadan hukum, tetapi mereka telah melakukan advokasi lingkungan. Menurut promovenda, syarat berbadan hukum sangat penting, karena syarat ini merupakan bukti dari kapasitas hukum penuh organisasi linngkungan.”, Ungkap Promovenda mengenai salah satu ketertarikan akan desertasinya.

Calon Doktor FH UGM ke 147 ini menggunakan tiga teori untuk menjawab tiga rumusan masalahnya. Teori Christopher D. Stone digunakan untuk menjawab rumusan mengapa legal standing organisasi lingkungan hidup diperlukan bagi perlindungan lingkungan hidup. Selanjutnya, teori Legal standing (hak gugat) untuk menjawab perkembangan legal standing di Indonesia mulai dari perorangan, kelompok, organisasi lingkungan hidup, pemerintah, bahkan citizen lawsuit. Terakhir ialah teori hukum pembangunan yang menjawab rumusan pembaruan legal standing seperti apa sebaiknya dikembangkan (ius constituendum).

Kesimpulan desertasi milik Ibu tiga anak ini adalah: Pertama, pengakuan legal standing secara implisit telah diakui memiliki hak. Pengakuan ini belum dapat dikatakan sebagai perwujudan dari teori yang digagas oleh Christopher D. Stone, dengan alasan bahwa belum ada ketentuan yang secara jelas mengakui adanya hak bagi lingkungan hidup di Indonesia; Kedua, Legal standing telah mengatur berbagai bidang, misalnya perlindungan konsumen, kehutanan, pengelolaan sampah, sumber daya air, Mahkamah Konstitusi, termasuk juga organisasi lingkungan hidup. Legal standing organisasi lingkungan hidup ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2009 pasal 92. Kemudian keluar Surat Keputusan Mahkamah Agung Nomor 36 tahun 2013 tentang Pemberlakuann Pedoman Penanganan Perkara Lingkungan Hidup; Ketiga, Pengakuan dan Pengaturan legal standing organisasi lingkungan hidup masih bersifat antroposentris. (Nurirzi Irdiyan)

TAGS :  

Latest News

Fakultas Hukum UGM Raih Prestasi Internasional di MediateGuru’s 6th Virtual International Mediation Competition 2026

Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) kembali menorehkan prestasi membanggakan di kancah internasional. Delegasi FH UGM yang terdiri dari Cindy Irthania (2023), Rifada Khalida …

Delegasi FH UGM Raih Runner Up International Negotiation Competition 2026 National Round, Perkuat Kompetensi Negosiasi Hukum Internasional

Perjalanan delegasi Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) dalam International Negotiation Competition (INC) 2026 National Round menjadi pengalaman yang penuh dinamika, pembelajaran, dan tantangan …

Faculty Of Law, UGM With Natural Resources Governance Studies (NRGS) And PT Pertamina (Persero) Officially Opens The Pertamina Mini Master Of Law Program 2026

Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui Pusat Kajian Tata Kelola Sumber Daya Alam atau Natural Resources Governance Studies (NRGS) kembali menjalin kolaborasi strategis dengan …

Scroll to Top