Dalam rangka memperingati Hari Anti Perdagangan Manusia Sedunia, Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (FH UGM) bersama Jaringan Masyarakat Sipil Jogja Bebas Perdagangan Orang menggelar kegiatan kolaboratif bertajuk “Menungso Ora Didol: Bersatu Melawan Eksploitasi”. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Kamis (30/7/2026) di Auditorium Gedung B FH UGM, Yogyakarta. Dalam kegiatan ini, FH UGM diwakili oleh Pusat Kajian Law, Gender, and Society (LGS) FH UGM. Kegiatan ini menjadi ruang bersama bagi berbagai elemen masyarakat untuk meningkatkan kesadaran publik sekaligus memperkuat komitmen dan aksi kolektif dalam mencegah serta menangani tindak pidana perdagangan orang.
Jaringan Masyarakat Sipil Jogja Bebas Perdagangan Orang terdiri atas berbagai organisasi dan komunitas di antaranya, Mitra Wacana, Beranda Migran, Rifka Annisa, Talitha Kum, DIAN Interfidei, LBH Yogyakarta, LBH APIK, Indriya-Nati, KOPPMI, serta komunitas perempuan dan purna migran di Yogyakarta. Keterlibatan lintas sektor dalam penyelenggaraan acara diharapkan dapat memperkuat dialog dan kolaborasi untuk pencegahan dan penanganan perdagangan orang yang lebih efektif.
Berbagai kegiatan dikemas dalam rangkaian acara yang meliputi Talk Show dan diskusi mengenai isu perdagangan orang. Talk show dan diskusi dalam kegiatan tersebut dibagi menjadi tiga sesi yang menghadirkan 10 narasumber dari berbagai latar belakang, mulai dari akademisi, pemerintah, organisasi masyarakat sipil, hingga organisasi yang bergerak dalam isu perlindungan pekerja migran dan perempuan. Narasumber yang hadir meliputi Sri Wiyanti Eddyono, S.H., LL.M.(HR)., Ph.D., dosen Fakultas Hukum UGM; Muhammad Ilyas Prakananda, S.Kom., M.Kom., Kepala BP3MI Daerah Istimewa Yogyakarta; Eni Lestari, Chair International Migrant Alliance; Neti Hasiah dari LBH APIK; Hanindha Kristy, Direktur Beranda Migran; Pdt. Dr. Agustina Elga Joan Sarapung, Direktur Institut DIAN Interfidei Yogyakarta; Sr. Anastasia, PMY, dari Talitha Kum Indonesia; Indiah Wahyu Andari, S.Psi., Direktur Rifka Annisa WCC; Mona Iswandari, Koordinator Divisi Riset dan Advokasi Mitra Wacana; serta Kharisma Wardhatul K., S.H., M.H., Direktur LBH Yogyakarta.
Kehadiran para narasumber dari berbagai sektor tersebut memperkaya perspektif dalam membahas persoalan perdagangan orang, mulai dari aspek hukum, kebijakan, perlindungan pekerja migran, perspektif gender, peran masyarakat sipil, hingga upaya pencegahan dan penanganan korban. Diskusi ini sekaligus menjadi ruang dialog lintas sektor untuk memperkuat strategi bersama dalam mewujudkan lingkungan yang bebas dari perdagangan orang dan eksploitasi. Di samping Talk Show dan diskusi, terdapat rangkaian kegiatan lainnya meliputi orasi, pentas seni, pemutaran video kampanye, serta bazar produk UMKM.
Selain meningkatkan pemahaman publik mengenai kompleksitas dan dinamika modus perdagangan orang, kegiatan ini juga memberikan ruang bagi penyintas untuk menyuarakan pengalaman dan aspirasinya. Perspektif penyintas menjadi bagian penting dalam membangun kebijakan dan strategi penanganan yang berorientasi pada pemulihan serta pemenuhan hak korban. Bazar UMKM yang menghadirkan produk-produk purna migran juga menjadi bagian dari upaya mendukung pemulihan ekonomi dan penguatan kapasitas mereka.

