{"id":7220,"date":"2016-09-06T08:55:25","date_gmt":"2016-09-06T01:55:25","guid":{"rendered":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/?p=1479"},"modified":"2016-09-06T08:55:25","modified_gmt":"2016-09-06T01:55:25","slug":"teliti-asset-recovery-pengacara-hotma-sitompul-raih-gelar-doktor","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/teliti-asset-recovery-pengacara-hotma-sitompul-raih-gelar-doktor\/","title":{"rendered":"Teliti Asset Recovery, Pengacara Hotma Sitompul Raih Gelar Doktor"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><a href=\"https:\/\/law.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/sites\/1043\/2016\/09\/IMG_2742.jpg\" rel=\"attachment wp-att-1480\"><img decoding=\"async\" class=\"aligncenter wp-image-1480 size-full\" src=\"https:\/\/law.ugm.ac.id\/wp-content\/uploads\/sites\/9\/sites\/1043\/2016\/09\/IMG_2742.jpg\" alt=\"img_2742\" width=\"600\" \/><\/a>Penelitian tentang pengembalian aset kejahatan korupsi atau <em>asset recovery<\/em> mengantarkan pengacara Hotma Padan Dapotan Sitompul (Hotma Sitompul) meraih gelar doktor. Hotma\u00a0 mempertahankan disertasinya berjudul \u201cPelaksanaan <em>Asset Recovery<\/em> dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Menurut Hukum Pidana dan Hukum Perdata Indonesia\u201d pada ujian terbuka promosi doktor Senin (5\/9) bertempat di Gedung I FH UGM.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Ketua penguji adalah Prof. Dr. Marsudi Triadmodjo, S.H., LL.M. Bertindak sebagai promotor adalah Prof. Nindyo Pramono, S.H., M.S., dan Prof. Eddy O.S. Hiariej, S.H., M.Hum., selaku ko-promotor. Pada ujian terbuka ini, hadir pula Prof.\u00a0 Dr.\u00a0 Indriyanto Seno Adji, S.H., M.H., penguji tamu dari Universitas Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penelitian Hotma dilatarbelakangi oleh kurang optimalnya pengembalian aset negara akibat tindak pidana korupsi. \u201cPadahal hukum menghendaki agar kerugian tersebut dipulihkan seluruhnya. Oleh karena itu, penegak hukum harus menggunakan semua instrumen hukum yang tersedia guna memulihkan kerugian yang terjadi sebagai akibat tindak pidana korupsi.\u201dterang Hotma dalam disertasinya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hotma melalui disertasinya\u00a0 menawarkan konsep jika terdakwa dihukum dengan pidana\u00a0 pokok selama 4\u00a0 tahun dan\u00a0 pidana\u00a0 tambahan pembayaran uang\u00a0 pengganti (PUP) sebesar\u00a0 Rp 100 milyar, ada\u00a0 baiknya pidana pengganti PUP ditentukan\u00a0 selama 10\u00a0 tahun (lebih lama daripada pidana pokok). Dengan syarat bahwa lamanya pidana penjara pengganti akan dikurangi selama 1 tahun untuk setiap kali PUP berhasil dibayar sejumlah Rp. 10 milyar.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Konsep inilah yang kemudian dipertanyakan oleh salah seorang penguji Prof. Dr. Marcus Priyo Gunarto, S.H., M.Hum. Pertanyaannya adalah apakah konsep ini tidak menganggu tujuan permasyarakatan karena nilai jumlah pemidanaan dihitung dengan uang. Hal ini mengingat bahwa dalam perkara korupsi tidak semua terdakwa menikmati hasil korupsi. Hotma mempertahankan disertasinya dengan argumen bahwa permasalahan sekarang ,walaupun ada\u00a0 PUP, terpidana lebih\u00a0 memilih masuk penjara daripada mengembalikan keuangan negara. \u201cYang menjadi masalah sekarang adalah menghukum orang itu atau mengembalikan kerugian negara? Kita harus mementingkan pada pengembalian.\u201djawab Hotma.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Hotma dalam kesimpulan disertasinya menyampaikan bahwa terdapat beberapa ketentuan dalam UU Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi yang dapat dimanfaatkan oleh penegak hukum untuk optimalisasi pengembalian kerugian negara. Ketentuan itu seperti: Pasal 2\u00a0 dan Pasal 3;\u00a0\u00a0 Pasal 18 ayat (3); Pasal 38B ayat (5); dan Pasal 38B ayat (2).<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Setelah 60 menit menjalani ujian terbuka, Ketua Tim Penguji membacakan hasil ujian yang menyatakan bahwa Hotma Padan Dapotan Sitompul, S. H., M.Hum lulus dengan predikat <em>cumlaude<\/em>. Di akhir acara, Prof. Nindyo selaku promotor berpesan bahwa capaian gelar doktor adalah awal ujian berat yang harus dihadapi Hotma dalam bermasyarakat, \u201cJika Bang Hotma konsisten dengan apa yang didapatkan dari disertasi ini, maka suarakanlah untuk mengabdikan pemikiran bagaimana <em>asset recovery<\/em> hasil kejahatan korupsi.\u201d (Hanifah)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penelitian tentang pengembalian aset kejahatan korupsi atau asset recovery mengantarkan pengacara Hotma Padan Dapotan Sitompul (Hotma Sitompul) meraih gelar doktor. Hotma\u00a0 mempertahankan disertasinya berjudul \u201cPelaksanaan Asset Recovery dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi Menurut Hukum Pidana dan Hukum Perdata Indonesia\u201d pada ujian terbuka promosi doktor Senin (5\/9) bertempat di Gedung I FH UGM. Ketua penguji adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":1,"featured_media":0,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"default","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[28],"tags":[],"class_list":["post-7220","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-berita"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7220","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=7220"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/7220\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=7220"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=7220"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=7220"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}