{"id":45152,"date":"2026-09-29T13:42:11","date_gmt":"2026-09-29T06:42:11","guid":{"rendered":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/?p=45152"},"modified":"2026-09-29T13:42:11","modified_gmt":"2026-09-29T06:42:11","slug":"mih-ugm-kampus-jakarta-selenggarakan-seminar-nasional-api-asap-dan-keadilan-bahas-karhutla-kepentingan-korporasi-dan-perlindungan-ham","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/mih-ugm-kampus-jakarta-selenggarakan-seminar-nasional-api-asap-dan-keadilan-bahas-karhutla-kepentingan-korporasi-dan-perlindungan-ham\/","title":{"rendered":"MIH UGM (Kampus Jakarta) Selenggarakan Seminar Nasional \u201cApi, Asap, dan Keadilan\u201d Bahas Karhutla, Kepentingan Korporasi, dan Perlindungan HAM"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Jakarta\u2014Program Studi Magister Ilmu Hukum (Kampus Jakarta), Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk <em>\u201cApi, Asap, dan Keadilan: Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia antara Bencana Alam, Kepentingan Korporasi, dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia\u201d<\/em> pada Sabtu (26\/9\/2026).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Seminar ini menjadi ruang akademik untuk membahas persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara komprehensif, tidak hanya sebagai persoalan bencana dan kerusakan lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan tata kelola, pemanfaatan lahan, aktivitas korporasi, penegakan hukum, perlindungan masyarakat, serta pemulihan lingkungan. Seminar menghadirkan tiga perspektif yang saling melengkapi, yaitu perspektif pemerintah daerah, penegakan hukum, dan akademik. Narasumber yang hadir dalam kegiatan ini adalah <strong>Dr. Afni Zulkifli, M.Si.,<\/strong> Bupati Siak,<strong> Dr. Dwi Januanto Nugroho, S.Hut., M.B.A.<\/strong>\u00a0dari Direktorat Jenderal Penegakan Hukum Kehutanan, serta <strong>Dr. Totok Dwi Diantoro, S.H., M.A., LL.M.<\/strong>, Dosen Departemen Hukum Lingkungan Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam perspektif pemerintah daerah, Dr. Afni Zulkifli membahas kebijakan dan tantangan pemerintah daerah dalam mencegah serta menanggulangi karhutla. Pembahasan mencakup pengelolaan wilayah, khususnya kawasan gambut, koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, keterbatasan kewenangan daerah, serta pentingnya kolaborasi dalam pencegahan dan penanganan karhutla. Persoalan pascakebakaran juga menjadi perhatian, khususnya mengenai pengelolaan dan pemulihan kawasan setelah terjadinya kebakaran maupun setelah adanya tindakan terhadap perizinan korporasi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sementara itu, Dr. Dwi Januanto Nugroho menguraikan persoalan karhutla dari perspektif penegakan hukum dan pertanggungjawaban korporasi. Penanganan karhutla tidak hanya berkaitan dengan pemberian sanksi pidana, tetapi juga mencakup instrumen administratif dan keperdataan. Penegakan hukum perlu ditempatkan dalam kerangka pengawasan dan pencegahan, mengingat tindak pidana lingkungan dan kehutanan memiliki karakteristik yang kompleks, dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang, serta tidak selalu mudah terlihat maupun dibuktikan. Oleh karena itu, efektivitas penegakan hukum juga membutuhkan pendekatan yang mempertimbangkan aspek sosial, ekologis, dan tata kelola.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Perspektif tersebut kemudian dilengkapi oleh Dr. Totok Dwi Diantoro yang menempatkan karhutla sebagai persoalan krisis sosio-ekologis dan keamanan manusia. Dampak karhutla tidak hanya dirasakan melalui kerusakan ekosistem, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat, mata pencaharian, aktivitas ekonomi, keamanan pangan, mobilitas, serta kualitas hidup masyarakat. Karena itu, keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari seberapa banyak sanksi yang dijatuhkan, tetapi juga dari kemampuan hukum dan kebijakan dalam mencegah kebakaran berulang, melindungi masyarakat, memastikan pertanggungjawaban, serta memulihkan fungsi ekologis dan kehidupan masyarakat terdampak.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Rangkaian pembahasan tersebut menunjukkan bahwa karhutla merupakan persoalan multidimensional yang membutuhkan pendekatan lintas sektor. Pencegahan, penegakan hukum, perlindungan masyarakat, dan pemulihan lingkungan perlu dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, masyarakat, serta perguruan tinggi.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Pendekatan tersebut juga sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya <strong>SDG 3<\/strong> tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera; <strong>SDG 13<\/strong> tentang Penanganan Perubahan Iklim; <strong>SDG 15<\/strong> tentang Ekosistem Daratan; serta <strong>SDG 16<\/strong> tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Dengan demikian, penanganan karhutla tidak hanya diarahkan pada pemberian sanksi terhadap pelanggaran, tetapi juga pada penguatan pencegahan, perlindungan kesehatan dan kehidupan masyarakat, pemulihan ekosistem, serta pembangunan tata kelola lingkungan yang berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Seminar Nasional \u201cApi, Asap, dan Keadilan\u201d diharapkan dapat memperkuat ruang dialog antara akademisi, pemerintah, penegak hukum, dunia usaha, dan masyarakat dalam membangun pemahaman serta pendekatan yang lebih komprehensif terhadap persoalan karhutla di Indonesia. Melalui pendekatan tersebut, penegakan hukum diharapkan dapat berjalan beriringan dengan perlindungan lingkungan, pemenuhan hak masyarakat, pemulihan ekosistem, serta pencapaian pembangunan berkelanjutan.<\/span><\/p>\n<p>Penulis: Ramzy Oansa Ilham<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Jakarta\u2014Program Studi Magister Ilmu Hukum (Kampus Jakarta), Fakultas Hukum, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk \u201cApi, Asap, dan Keadilan: Kebakaran Hutan dan Lahan di Indonesia antara Bencana Alam, Kepentingan Korporasi, dan Pelanggaran Hak Asasi Manusia\u201d pada Sabtu (26\/9\/2026). Seminar ini menjadi ruang akademik untuk membahas persoalan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) secara komprehensif, tidak [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":95,"featured_media":45153,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"default","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[28,218],"tags":[240,241,235,229,228,230,220],"class_list":["post-45152","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-berita-sdgs","tag-fakultas-hukum-ugm","tag-law-ugm","tag-sdg-13-penanganan-perubahan-iklim","tag-sdg-15-ekosistem-daratan","tag-sdg-16-perdamaian-keadilan-dan-kelembagaan-yang-tangguh","tag-sdg-3-kehidupan-sehat-dan-sejahtera","tag-sdgs"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45152","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/95"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=45152"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45152\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":45154,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/45152\/revisions\/45154"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/45153"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=45152"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=45152"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=45152"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}