{"id":33694,"date":"2025-03-20T08:50:42","date_gmt":"2025-03-20T01:50:42","guid":{"rendered":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/?p=33694"},"modified":"2025-03-26T08:58:21","modified_gmt":"2025-03-26T01:58:21","slug":"ancaman-terhadap-kebebasan-akademik-dan-masa-depan-pendidikan-tinggi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/ancaman-terhadap-kebebasan-akademik-dan-masa-depan-pendidikan-tinggi\/","title":{"rendered":"Ancaman terhadap Kebebasan Akademik dan Masa Depan Pendidikan Tinggi"},"content":{"rendered":"<p>Pusat Kajian Demokrasi, Konstitusi, dan Hak Asasi\u00a0 Manusia Fakultas Hukum UGM (PANDEKHA) kembali menyelenggarakan diskusi\u00a0 rutin bertajuk &#8220;#IndonesiaGelap: Nasib Pendidikan dan Dunia Akademisi&#8221; pada Jumat, (14\/3\/2025). Diskusi ini\u00a0 menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti untuk membahas tantangan besar\u00a0 yang dihadapi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Tiga pembicara utama dalam\u00a0 diskusi ini adalah I Gusti Agung Made Wardana, Dhiya Al Uyun, dan Herlambang P.\u00a0 Wiratraman. Diskusi ini diikuti oleh 91 peserta melalui Zoom dan relevan dengan poin\u00a0 ke-4 dan ke-16 Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) terkait pendidikan\u00a0 berkualitas dan keadilan sosial.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>I Gusti Agung Made Wardana mengangkat isu dominasi kekuasaan dalam institusi\u00a0 akademik. Menurutnya, kampus tidak lagi sekadar menjadi lembaga pendidikan. Namun, telah\u00a0 menjadi arena pertarungan antara tiga kekuatan besar: pasar dengan agenda\u00a0 neoliberalisme, negara dengan logika kontrol dan eksploitasi, serta masyarakat yang\u00a0 memperjuangkan idealisme akademik.\u00a0<\/p>\n\n\n\n<p>Wardana menyoroti bagaimana neoliberalisme telah mengubah wajah pendidikan&nbsp; tinggi menjadi komoditas yang tunduk pada mekanisme pasar. Ia mencontohkan&nbsp; program &#8220;Kampus Merdeka&#8221; sebagai bagian dari upaya mempersiapkan mahasiswa&nbsp; untuk menjadi tenaga kerja yang tunduk pada sistem ekonomi kapitalis. Sementara&nbsp; itu, negara turut andil dalam mengontrol kampus melalui kebijakan yang mengekang&nbsp; kebebasan akademik serta pendisiplinan terhadap dosen dan mahasiswa yang&nbsp; dianggap berseberangan dengan pemerintah.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Dhiya Al Uyun menyoroti krisis kualitas, aksesibilitas, dan anggaran pendidikan. Ia&nbsp; mengungkap fakta bahwa 76% dosen di Indonesia harus mencari pekerjaan&nbsp; sampingan demi mencukupi kebutuhan hidup, menandakan rendahnya kesejahteraan&nbsp; tenaga pendidik. Di sisi lain, beban administratif yang tinggi serta sistem pengelolaan&nbsp; sumber daya manusia yang diskriminatif turut memperparah kondisi akademisi di&nbsp; Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Dhiya, loyalitas dosen kerap dipaksakan dalam tiga aspek: terhadap negara,&nbsp; institusi, dan pimpinan. Ia menyoroti bagaimana kampus-kampus swasta melakukan&nbsp; pemecatan sepihak terhadap tenaga pengajar yang dianggap tidak sejalan dengan&nbsp; kepentingan institusi, serta bagaimana penggajian yang berlapis-lapis memperumit&nbsp; kesejahteraan akademisi. Ia menegaskan bahwa negara harus mengambil peran&nbsp; dalam meningkatkan kesejahteraan dosen dengan kebijakan yang lebih berpihak.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Herlambang P. Wiratraman membahas strategi perlawanan akademisi dalam&nbsp; menghadapi ancaman terhadap kebebasan akademik. Ia menyoroti bagaimana&nbsp; pemerintah, melalui berbagai kebijakan hukum, terus mempersempit ruang&nbsp; kebebasan akademik. Salah satu contoh yang ia angkat adalah bagaimana KUHP&nbsp;yang mulai berlaku pada 2026 berpotensi membungkam ekspresi kritis di dunia&nbsp; akademik.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, ia menyoroti strategi kooptasi yang dilakukan pemerintah terhadap kampus,&nbsp; termasuk melalui pemberian konsesi tambang kepada universitas, yang pada&nbsp; akhirnya dapat mengkooptasi independensi akademik. Hal ini, menurutnya,&nbsp; merupakan upaya halus untuk menundukkan institusi akademik agar tidak lagi&nbsp; menjadi ruang perlawanan terhadap kebijakan pemerintah yang otoriter.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai langkah konkret, Herlambang mengajukan lima strategi untuk&nbsp; memperjuangkan kebebasan akademik: memperkuat solidaritas akademik,&nbsp; meningkatkan kesadaran kewargaan, menjaga demokrasi melalui advokasi hukum,&nbsp; menumbuhkan keberanian untuk perlawanan sipil, serta mengembangkan strategi&nbsp; efektif untuk melindungi kebebasan akademik dari berbagai intervensi politik dan&nbsp; ekonomi.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Diskusi ini menggambarkan bagaimana pendidikan tinggi di Indonesia berada dalam&nbsp; ancaman serius akibat intervensi politik, tekanan ekonomi, serta lemahnya&nbsp; perlindungan terhadap kebebasan akademik. Dengan meningkatnya represi terhadap&nbsp; dunia akademik, diperlukan langkah-langkah konkret untuk mempertahankan&nbsp; integritas dan independensi institusi pendidikan tinggi di Indonesia.&nbsp;<\/p>\n\n\n\n<p>Reporter: Poppy Hairunnisa (PANDEKHA)<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Pusat Kajian Demokrasi, Konstitusi, dan Hak Asasi\u00a0 Manusia Fakultas Hukum UGM (PANDEKHA) kembali menyelenggarakan diskusi\u00a0 rutin bertajuk &#8220;#IndonesiaGelap: Nasib Pendidikan dan Dunia Akademisi&#8221; pada Jumat, (14\/3\/2025). Diskusi ini\u00a0 menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti untuk membahas tantangan besar\u00a0 yang dihadapi dunia pendidikan tinggi di Indonesia. Tiga pembicara utama dalam\u00a0 diskusi ini adalah I Gusti Agung Made [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":95,"featured_media":33696,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"site-sidebar-layout":"default","site-content-layout":"","ast-site-content-layout":"default","site-content-style":"default","site-sidebar-style":"default","ast-global-header-display":"","ast-banner-title-visibility":"","ast-main-header-display":"","ast-hfb-above-header-display":"","ast-hfb-below-header-display":"","ast-hfb-mobile-header-display":"","site-post-title":"","ast-breadcrumbs-content":"","ast-featured-img":"","footer-sml-layout":"","ast-disable-related-posts":"","theme-transparent-header-meta":"","adv-header-id-meta":"","stick-header-meta":"","header-above-stick-meta":"","header-main-stick-meta":"","header-below-stick-meta":"","astra-migrate-meta-layouts":"set","ast-page-background-enabled":"default","ast-page-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-4)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"ast-content-background-meta":{"desktop":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"tablet":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""},"mobile":{"background-color":"var(--ast-global-color-5)","background-image":"","background-repeat":"repeat","background-position":"center center","background-size":"auto","background-attachment":"scroll","background-type":"","background-media":"","overlay-type":"","overlay-color":"","overlay-opacity":"","overlay-gradient":""}},"footnotes":""},"categories":[28,218],"tags":[240,241,291,312,228,227,220],"class_list":["post-33694","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-berita","category-berita-sdgs","tag-fakultas-hukum-ugm","tag-law-ugm","tag-pandekha-fh-ugm","tag-pusat-kajian-demokrasi-konstitusi-dan-hak-asasi-manusia","tag-sdg-16-perdamaian-keadilan-dan-kelembagaan-yang-tangguh","tag-sdg-4-pendidikan-berkualitas","tag-sdgs"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33694","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/95"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=33694"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33694\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":33700,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/33694\/revisions\/33700"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/33696"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=33694"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=33694"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/law.ugm.ac.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=33694"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}